Jumat, 16 Oktober 2015

Bulan haram



Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh...
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri sendiri dalam bulan yang empat itu…” (QS. At Taubah: 36)
4 bulan haram tersebut adalah bulan Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Dinamakan bulan haram ada yang memaknakan karena: Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.
Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya:
“Allah Ta’ala berfirman, “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yg empat itu,” maksudnya: Dalam bulan-bulan yang terhormat ini. Karena dosanya lebih berat dan lebih besar dibandingkan pada bulan-bulan lainnya..."
Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”
Semoga kita dimudahkan untuk menjalankan amalan baik sebanyak-banyaknya dengan penuh keikhlasan dan mengikuti tuntunan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Sallam dan dimudahkan untuk menjauhi segala laranganNya.
CATATAN: Bulan Muharram, awal tahun baru Hijriah. Sejauh yang kami tahu, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru hijriyah. Dan cukup banyak amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah. Mengapa?? Karena perlu diketahui bahwa penanggalan Hijriyah baru ditetapkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab Radhiallahu 'anhu, sehingga tidak ada riwayat amalan yang disyariatkan pada masa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Sallam. Untuk itu sejatinya kita lebih berwaspada akan amalan yg cukup umum dilakukan di awal tahun baru Islam seperti: doa awal dan akhir tahun, puasa awal dan akhir tahun, memeriahkan dengan perayaan, mencuci benda-benda pusaka, dsb. Cukupkan amal ibadah kita pada yang sudah dituntunkan Nabi kita Muhammad Shalallahu 'alaihi wa Sallam, hal ini pasti sudah cukup dan paling aman bagi pertanggung jawaban kita di hari hisab kelak.

AMALAN BULAN MUHARRAM
1. MEMPERBANYAK PUASA
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa yang jatuh pada) bulan Allah, (yaitu) Muharram…” (HR. Muslim)
2. PUASA ASYURA (10 MUHARRAM)
”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
3. PUASA TASU'A (9 MUHARRAM)
“Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan.” Namun, belum sampai tahun depan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sudah diwafatkan. (HR. Bukhari)
RENUNGAN PERGANTIAN TAHUN BARU HIJRIYAH
APAKAH ALLAH MENCINTAIKU ?
Aku teringat bahwa kecintaan Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap hamba-Nya BUKAN DATANG SEENAKNYA hamba,
TAPI karena sebab-sebab yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam KITAB-NYA.
Aku coba untuk mentadabburi dan memutar file-file tentang hal itu yang terdapat di dalam al Qur’an.
Aku berusaha MENGUKUR DIRIKU terhadap ayat-ayat itu dengan harapan aku menemukan jawaban nya
Langkah PERTAMA
Aku menemukan ayat al Qur’an yang mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai orang yang BERTAQWA.
“(Bukankah demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.
[Qs. Ali Imran(3) : 76]
Namun sayang,
langsung batin ku berkata dengan JUJUR,
aku tidak termasuk ke dalam golongan ini.
Langkah KEDUA
Aku ketemu ayat yang mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai orang yang SABAR.
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar”
(QS Ali Imran [3] ayat 146)
Dengan penuh pengakuan tulus batinku langsung MENGAKUI;
teramat jauh diriku dari kelas bergengsi ini.
Betap
a aku tidak mampu bersabar dalam menghadapi segala hal.
Langkah KETIGA
Aku menemukan ayat yang mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai orang yang BERSUNGGUH SUNGGUH di jalan-Nya.
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”
(QS. Fathir: 29-30).
Bukan sok tawadhu’,
batin ku langsung TERLUKAI mengakui betapa aku lebih banyak dikalahkan oleh rasa malas dari pada bersungguh-sungguh
.
Langkah KEEMPAT
Aku menemukan ayat al Qur’an yang mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai orang yang BERBUAT BAIK.
Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhan­mu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
(Q.s. az-Zumar: 10)
Batinku pun TERSENYUM GETIR sambil merenung penuh INSAF,
KEBAIKAN apa yang sudah ku lakukan?
Aku masih punya MALU untuk tidak mengaku-ngaku termasuk kelompok ORANG BAIK.
Di saat itu aku berhenti merenung,
Aku TAKUT kalau-kalau aku tidak menemukan di dalam diriku sifat yang membuat Allah Subhanahu
wa Ta'ala cinta kepadaku.
Kemudian aku mencoba untuk membuka lembaran AMAL apa saja yang pernah aku lakukan?
NAMUN,
Jangankan mendatangkan keoptimisan,
telingaku memerah sendiri,
keringat dingin mulai berkucuran,
aku berusaha langsung melupakannya.
Aku MALU dengan diriku sendiri.
Ternyata semuanya bercampur dengan
kemalasan,
kekurangan,
cacat,
belum lagi perbuatan yang semata-mata itu dosa dan maksiat.
Ketika aku akan mengakhiri perenunganku,
tiba-tiba tangan ku membalik mushaf al Qur’an ya
ng berada di pangkuanku.
Saat itu mataku langsung tertuju kepada potongan ayat yang berbunyi :
:إن الله يحب التوابين“…..
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat….”
(al Baqarah: 222)
Seolah-olah aku kalau ayat itu diturunkan kepadaku saat itu, untuk menghilangkan gundah di hatiku dan menimbulkan harapan kalau Allah Subhanahu wa Ta'ala juga cinta kepadaku.
Air mata haru tidak bisa terbendung dari mataku.
Perasaan lembut menjalar dari hulu jantung sampai keseluruh pori-pori di tubuhku.
Hatiku bergumam;
ternyata aku juga dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala .
Aku sampai terisak menahan haru.
Aku pun mulai melantunkan kalimat istighfar:
أستغفر الله الذي لا اله الا هو الحي القيّوم وأتوب إليه
Aku minta ampun kepada Allah yang tiada tuhan selain Dia, yang Maha Hidup dan Maha Mengatur, dan aku bertaubat kepada-Nya.
Aku betul-betul berharap,
meskipun aku jauh dari empat kriteria sebelumnya,
jangan sampai aku juga tersingkir dari kelompok orang terakhir ini.
Orang yang bertaubat atas segala do
sanya.
Ya Allah,
jadikan lah kami termasuk orang yang bertaubat dan
jadikan lah kami termasuk orang yang mensucikan diri….
aamiin..
Semoga bermanfaat
Silahkan share
"AL QUR'ANUL KARIM"
"NASEHAT ISLAMI"
"RENUNGAN SEORANG HAMBA"

Tidak ada komentar: